(Hari Utama Ribowo)
Saya masih sangat ingat, pagi itu kami empat sekawan sdh siap berangkat. Kami adalah :Teddy Rukmantara, Johanes Kristianto, Gatot Setiawan (skrg sdh almarhum), dan saya. Kendaraan yang di gunakan adalah dua buah Sepeda Motor. Pada saat itu perjalanan Jakarta - Bali naik sepeda motor adalah suatu hal yang jarang terjadi.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, ternyata Sepeda motor saya yaitu sebuah Honda CB 100 yang baru saja selesai di turun mesin di Bengkel, tidak di rekomendasikan. Sepeda Motor yang di pilih akhir nya adalah sepeda motor milik Kiki sebuah CB 125 engkle (satu karburator dan satu knalpot). Jenis ini masih cukup luxury pada saat itu, karena baru saja beberapa bulan di pasarkan. Sepeda motor yang kedua adalah sebuah Vespa 150 cc exclusive milik Teddy. Vespa, sepeda motor dengan roda kecil, dianggap cukup dapat di andalkan karena Teddy (pemiliknya) sudah tau seluk beluk mengenai mesin vespa (bisa bongkar pasang sendiri dan bisa membawa ban serep).
Karena dana yang kami punyai cukup terbatas, maka kami ikuti saran dan pendapat Johanes Kristianto (Kiki), yaitu mengumpulkan sebanyak mungkin baju dan celana panjang untuk dibawa dalam perjalanan itu. Bukan buat sok sok an, tapi baju dan celana panjang itu pasti akan berguna kalo kita sudah kehabisan peluru, bisa dijual atau ditukar dengan makanan kalo kita kehabisan peluru. Semua baju dan celana itu kami isikan kedalam sebuah ransel tentara water proof yang bentuk nya seperti guling besar milik Kiki. Ngomong2 soal Peluru, saya terpaksa buka rahasia nih: malam sebelumnya saya masih berusaha cari tambahan ke rumah ipar saya di pasar minggu.. tapi karena gak berani ngomong, yaa ipar saya tidak mengerti maksud saya, dan pulang lah saya dengan tangan hampa (tak ada tambahan peluru).
Perlengkapan lain, yaa seperti biasa, kami membawa helm yang sudah kami cat warna warni (flower generation dong), dan saya juga tak lupa mengenakan jaket jeans yang sudah saya lepas lengan nya sehingga menyerupai Rompi. tapi di bagian belakang saya sulam huruf huruf membentuk kata "POLUTION" dikelilingi sulaman warna warni bunga. Polution artinya pengotoran. Entah mengapa koq saya pilih kata itu ? sampe sekarang saya bingung jawaban nya. Apakah karena merasa bahwa kami ini sampah yang akan mengotori dunia.. saya tidak tau jawab nya. Selain itu tak lupa guntingan bagian bawah celana jeans yang masih berbentuk silinder yang akan saya pakai dikepala (mirip geng Kuk Klux Clan) untuk melindungi muka dari abu maupun terik matahari. Untuk bisa melihat dan bernapas, maka selongsong celana jeans itu saya beri lubang tiga buah untuk dua mata dan hidung saya.. Kacamata Ray-ban gak lupa, saya kenakan setelah silender jeans terpasang di kepala. Setelah itu barulah pasang helm berbentuk Topi Baja Tentara Nazi. Saya juga membawa sebuah tas yang biasa saya selempangkan di leher sampai ke pinggang. tas tersebut terbuat dari bahan kantong terigu yang ada gambar tangan sedang bersalaman dan simbol bendera amerika. Gagah sekali keliatannya.. dalam tas itu saya isikan macam macam keperluan saya tetek bengek.
Setelah berpamit pamitan dengan kedua adik perempuan saya, dan teman teman yang ada disitu, antara lain John Junir, Winarto Subekti (Toto), Agustar Atam (Agus), Hardiono Hardiwinangun (Dion), (saya lupa apakah Harry Abraham ada disitu) maka berangkatlah dua buah motor yang sarat muatan itu (khususnya CB 125 yang membawa ransel di atas tangki muncung sampe melewati lampu depan). Formasi tetap adalah saya dan Kiki di CB 125, sedangkan di Vespa adalah Teddy dan Gatot. Dalam pemberangkatan perdana ini masing masing si empunya sepeda motor lah yang mengemudi.. saya dan Gatot bonceng dulu dibelakang. Karena duduk di belakang, saya bisa memandang kebelakang, melihat adik adik, dan teman teman yang saya tinggalkan, mereka melambaikan tangan menyertai kepergian kami, dan itu membuat saya merasa sedih. Apakah ini perpisahan terakhir, apakah saya bisa kembali dengan selamat ? Ya Allah lindungilah kami yang pergi dan juga mereka yang tinggal, selama kami melaksanakan perjalanan ini. Saling melambaikan tangan itu terus berlansung sampai sepeda motor kami belok memasuki gang yang merupakan jalan pintas kearah jalan raya S.Parman.
Begitu motor belok masuk ke Gang, rasa sedih akibat perpisahan segera terlupakan. Saat itu, kira kira jam tujuh tigapuluh pagi, tak lama kemudian kami sdh kami sudah memasuki jalan S Parman berputar arah ke semanggi menuju Cawang terus ke Pulo Gadung, karena kami akan menempuh perjalanan ke jawa tengah lewat jalur utara. Target kami hari pertama ini adalah mencapai kota Semarang sebelum gelap. Hei, jangan bicara soal target? Karena ternyata kami sama sekali tidak punya planning yang matang. Bayangkan kami bahkan tidak bawa peta sama sekali.. Preparation macam apa ? Bagaimana pun juga, perjalanan perdana ini penuh dengan semangat menggebu gebu..
Selama perjalanan sejak pagi hari itu, kami hanya berhenti untuk isi bensin, dan tidak berhenti sekalipun untuk kepentingan perut. Ketika sampai kota Tegal barulah kami berhenti karena sudah lapar, maklum saat itu sudah jam satu siang. Segera kami cari sebuah warung yang bersih dipinggir jalan. Itu adalah makan siang kami yang pertama selama perjalanan. Disaat makan itulah kami mulai berpikir bahwa kami harus mengumpulkan uang (uang kas) di satu orang yg akan bertindak sebagai bendahara. Setelah berembug berempat, ternyata saya yang dipilih jadi bendahara. Selesai Makan, merokok dan tak lupa minum kopi, kami berangkat lagi menuju kota Semarang. Tak ada hambatan apapun, kami dapat melarikan sepeda motor kami lebih cepat, sehingga sebelum maghrib kami sudah tiba di kota semarang, dan langsung mencari cari alamat seorang teman kami yang saat itu sedang kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.
Teman kami itu Bernama Wibowo Budi S (Bowo), teman sejak kami masih SMA. Walaupun berasal dari SMA yang berbeda, kami suka jalan sama sama. Dapat diinformasikan bahwa Bowo ini sebetulnya adalah teman sekelas dengan tetangga kami di Slipi yang bernama Winarto (Toto). Dulunya kalau datang ke Slipi, Bowo hanya main nya ke rumah Toto saja. Tapi karena Toto suka main ke rumah saya (rumah ibu saya sejak dulu memang tempat mangkal teman anak anaknya), maka diperkenalkanlah saya dengan Bowo dan menjadi teman akrab. Ketika kami lulus SMA, bersama sama pula kami mendaftar ke perguruan tinggi. Ternyata Bowo diterima di UNDIP, dan saya di terima di sebuah institut dibawah kementrian keuangan. Sejak itulah kami berpisah, hanya saat saat tertentu saja bisa berjumpa, misalnya hanya pada hari raya. Tapi selalu bertemu di malam tahun baru karena ibu saya berulang tahun dan selalu bikin acara walaupun sederhana. Setelah lulus Sarjana, kami masih tetap terpisah karena perjalanan karier kami dimulai merayap dari bawah, pindah dari satu kota ke kota lain.
Kembali ke cerita, mencari alamat kost Bowo, Setelah tanya sana tanya sini, akhirnya ketemu juga alamat yang di tuju. Namun Bowo sedang tidak ada. Menurut si empunya kost, Bowo hanya sedang kuliah, tapi pasti akan segera kembali. Betul saja, tak lama kemudian bowo datang, katanya baru pulang dari kampus. Bowo mengajak masuk ke dalam, kami sempat kaget juga melihat kamarnya yang sangat kecil (ukuran 2,5x2,5 m), hanya ada satu dipan single, meja kerja plus kursi kerja, dan sebuah lemari pakaian sederhana. Tak ada tempat duduk lain. sehingga kamipun ngobrol sambil duduk dilantai.
Saya yakin bahwa Bowo sangat surprise menerima kedatangan kami. Maklum tidak ada khabar tidak ada berita. Laah saat itu kan belum ada HP, tdk bisa kirim sms. Itulah sebabnya Bowo tak mengadakan persiapan apapun, tau tau kami rombongan 4 orang sudah muncul di depan pintu kamar kost nya.Saya juga heran, koq bisa bisa nya kami pergi melakukan perjalanan yang jauh tanpa rencana yang matang, tanpa pemberitahuan kepada Bowo bahwa kami akan datang. Untung saja Bowo ada di tempat, coba kalo sedang keluar kota, atau sedang tidak ada di Semarang ? mau apa kami.
Tapi Bowo welcome sekali, dia selalu tertawa lepas, itu ciri khas nya sampai sekarang.. Kalaupun saat itu ada yang dipikirkan, maka pasti yang jadi pikirannya adalah bagaimana caranya kami tidur malam itu. Tapi tak ada pilihan lain, akhirnya kami sampaikan juga kepada Bowo bahwa kami akan bermalam di tempat kost nya itu. Bowo menjawab : "Beres bro.. asal mau aja tidur seperti sarden". Betapa gembira hati kami mendengar jawabannya, dan betul saja malam itu kami tidur seperti sarden di kamar kost itu. Bagaimana cara nya ? Kasur di turunkan ke lantai, rangka tempat tidur di keluarkan dari kamar, dan kami tidur berjejer hanya kepala sebatas badan saja yang boleh di kasur, sedangkan bagian kaki nya nggelosor di lantai. Sebelum tidur kami sempatkan mencoba resep nya Kiki. Kami panggil tukang sate yang lewat ditempat kost. Sudah agak malam saat itu, Haha ternyata bisa dapat empat puluh tusuk sate berikut lontong nya.. Ukuran ini lah yang akan kami pakai terus. Satu Celana = 40 tusuk sate plus lontong. dengan kata lain satu celana bisa untuk satu kali makan dong.. Maka sambil terus ngobrol ngobrol dengan Bowo, makanlah kami sate plus lontong. Tapi saya koq lupa ya.. lupa kenapa cuma empat puluh tusuk.. Lalu Bowo malam itu makan apa?
Tunggu lanjutan nya di episode berikut.
No comments:
Post a Comment